Bukan kesan pertama

image

Mengenai hati yang mulai berdegup saat memandang kilasan matamu yang diameternya tak terlau lebar itu, akan kujelaskan perlahan nanti.
Baiklah, mungkin yang aku tahu saat ini percakapan kita yang tak terlalu banyak. Kebersamaan yang lebih singkat daripada kata tamat. Dan rasa ingin tahu yang cukup besar dari dalam hati.
Aku mencarinya, perihal dirimu dimanapun ada mesin pencari otomatis. Namun tak satupun memberikan titik terang.
Bolehkah kita berkenalan sewajarnya? Agar aku bisa menanyakan langsung padamu, apa saja yang aku ingin ketahui, tentangmu.
Bisakah beri aku sedikit ruang gerak lebih lega, agar lebih banyak waktu yang merenggang.
Agar aku bisa berdiri di sampingnu lebih lama. Supaya aku dapat mendengar matamu berbicara lebih banyak.

***
OK-Djj, Juli 2016
H-23
Ditulis untuk bersenang-senang.

Ada

image

Ada rindu yang diam-diam tak pernah padam.
Ada rindu yang tetap beku, berusaha bertutur satu persatu.
Ada hati yang masih menunggu, hanya karena masih sering dirudung,
rindu.

***
Djj, May 28 2016

Teruntuk: pemilik senyuman dengan kandungan rindu 100%

Welcome 25

Halo, kamu
Apa kabar hari ini?
Sedang gembirakah atau sebaliknya?
Ada yang ingin kau sampaikan? Atau ada yang hendak kau ceritakan padaku?

Aku akan bercerita sedikit tentang hari ini. Hari ini aku bahagia, singkatnya karena aku kedatangan tamu yang memang sudah sepatutnya hadir. Kedatangannya bisa membuat banyak kata bahagia meluap dimana mana atau justru menjadi petaka karena menimbulkan beban berat. Tapi buatku, kehadirannya justru membuatku sadar ternyata sudah sejauh ini, sudah sebanyak ini yang telah aku lalui. Perjumpaan kami justru membuatku bercermin banyak tentang semua yang telah kulewati, yang telah terjadi. Memutar memori lampau tentang bahagia, sedih, bahkan swing mood yang kadang mengganggu. Terima kasih telah hadir, mari kita hadapi seperempat abad yang menyenangkan ini. Selamat datang diriku yang ke 25, aku mencintaimu.

image

***
Ditulis dengan kesyukuran luar biasa. Semoga 31 maret tahun depan masih diberi kesempatan untuk terus bercerita.

Sampai jumpa 24

Halo, pembaca.
Apa kabar?
Setelah mengumpulkan niat yang luar biasa untuk sekedar mengabadikan momen, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan beberapa kalimat yang mungkin akan saya buat tidak panjang lebar.
Singkatnya saya hanya ingin bercerita lagi setelah lama rehat dari kegiatan membaca dan merangkai tulisan.
Bagi saya, menuju 25 ternyata tidak pernah menjadi semudah yang saya pikirkan sebelumnya. Stressor. Ya memang, sometimes life can be life with some seasoning of life stressor. Beberapa waktu sebelumnya saya sempat mengalami beberapa kondisi dengan stressor yang cukup membuat saya serasa sedang terserang serangan cemas, sayangnya tidak. Semua keluhan itu hilang tidak kurang dari beberapa hari.

Sepuluh minggu terakhir saya mulai memahami, hidup mengajarkan saya untuk bangun pagi lagi esok harinya dan mempersiapkan diri untuk ” menerima kenyataan” bahwa stressor sebagai orang dewasa memang seberat ini (pikir saya). Padahal mungkin di sekitar saya masih banyak lagi manusia-manusia yang stressor hidupnya lebih berat.

Dipenghujung 24 ini saya mencoba menikmati waktu yang ada dengan membahagiakan diri sendiri, mencoba terapi warna tanpa blocking dan aturan apapun. Dan ternyata semua itu menyenangkan.

image

Jangan pernah berpikir akan jadi seperti apa akhirnya, mulai dengan perlahan saja dulu, ikuti alurnya. Dan ternyata semua indah pada waktunya.

Salam hangat,
Andluna

***
Ditulis sebagai refleksi diri sendiri dipenghujung 24.

Bukan perempuan Loftus Road

Ps: Ditulis sebagai respon cerpen Sungging raga;
Sebatang pohon di Loftus Road

image

Bukan perempuan Loftus Road

Aku bukanlah perempuan yang sentimentil, suka menjawab kesepian dengan tengil.
Aku bukanlah perempuan kesepian, yang membiarkan patah hati mewabah duluan.
Aku bukanlah perempuan yang patah hati, kemudian menyerahkan sisa hidup untuk menanti.
Aku bukanlah perempuan dengan kegemaran menanti pria-pria yang pergi sesuka hati; lantas menggenangkan kesedihan terduduk di bangku taman Loftus Road, yang tenang yang selalu diam.
Aku bukanlah perempuan jelmaan pohon-pohon kesedihan—pun sebaliknya.
Aku bukanlah perempuan yang bisa dengan mudah melupakan siapa yang datang. Siapa yang pergi.
Aku bukanlah perempuan yang menjelma rindang di satu-satunya bangku taman Loftus Road; yang kala malam temaram dan remang-remang.
Akulah perempuan yang sepenuh hati menyesal mengapa tak ada janji yang menemaniku berbincang atau sekedar menikmati secangkir kopi panas di bangku taman Loftus Road, setelah pembicaraan panjang tanpa kata pulang dan obrolan mengenai politik rezim lama hingga bualan cinta orang dewasa di telenovela.
Akulah perempuan yang sepenuh hati menyesal mencintai rencana masa depan, dan beranjak pulang sebelum waktu yang ditentukan.
Akulah perempuan yang terburu-buru menghindari kutukan, dan berubah jadi rindang di sebrang jalan Loftus Road.
Akulah satu-satunya Linden yang subur di St. Luciana, dulunya aku seorang perempuan yang mengabaikan.

***
Agenda 2014 yang republish 22 januari 2016.

No caption needed

Apa kabar yang berusaha melupakan dengan mencoba menggenggam tangan seseorang? Semoga rencanamu berjalan lancar.

(Sarascatic-Lovember 2015)

Setelah nyaris habis Lovember 2015 kali ini, saya berhasil mengusir lagi rasa malas untuk menulis. Ya, kegiatan sehari-hari yang menyita daya pikir nyaris menghisap semua kreativitas dalam kepala.
Dan malam ini bersama Everglow milik Coldplay saya memutuskan untuk menulis lagi.
Mungkin untuk tulisan fiksi tentang rindu dan kenangan masa lalu sejenak akan ditiadakan, karena.. Kembali lagi ke alinea kedua tadi.
Dan alasan selanjutnya jika saya lanjutkan akan membentuk biku-biku yang beranak pinak, dan belum tahu dimana pangkal ujungnya.
Selanjutnya saya pun sedang tidak dalam perasaan yang berbahagia mengingat-ingat inspirasi tentang cerita tempo lalu yang mendayu, ataukah menggelitik urat malu.
Dalam sebuah kalimat jenaka dari seorang kawan, kenangan sepertimu tidak lebih dari cerita lucu masa lalu.

***
Djj, 071215
Dalam perasaan berbahagia dapat menulis beberapa alinea.

image

Renung

image

Kita bisa saling mengerti tanpa bicara.
Kita mampu mengatakan “aku rindu” tanpa menggeser posisi tubuh.
Kita bahkan sanggup bercerita tentang cinta tanpa suara.
Kita, yang perasaan rindunya sama, namun penuh drama dan permainan kata,
Hingga kau pergi begitu saja, dan aku terdiam, berfikir pernahkah ada kita?

***
Djj, 30.Juli.2015
Ditulis untuk bersenang-senang.

Previous Older Entries