Romantisme sebuah kehilangan

Beberapa hari yang lalu saya menyempatkan diri untuk membuka alamat email lama saya dan ada sebuah notifikasi kalau seorang teman akun jejaring sosial saya (facebook) mengirimkan sebuah penggalan puisi, hmm karena pada dasarnya saya saya menyukai penulisan sastra, dengan sigap jari jemari saya langsung surfing ke google, yahh maklum google adalah search engine paling populer yang banyak dikenal masyarakat, dan terlintas seketika dalam pikiran saya untuk membukanya, hehe :D…

Oke, kembali ke topik perbincangan (puisi -red), setelah saya mendapatkan beberapa hasil, saya membuka dan mendapatkan beberapa versi, dan saya memilih yang ini, alasannya??
Karena “ngena” banget hehehe😀

well, sebenarnya ini adalah sebuah puisi yang udah sempat booming luamaa bangeet, tapi baru sempat saya ulas sekarang, karena saya baru membuka lagi blog tercinta ini😀
dari segi ekstrinsiknya, saya menyukai perbendaharaan kata yang sederhana namun dirangkai dengan sangat manis, meskipun puisi tersebut adalah sebuah puisi kehilangan, yang notabene erat dengan kesedihan.
dalam puisi ini juga terdapat pesan moral yang klasik yang dibalut dengan romantisme ketegaran (karena kehilangan -red)

oh ya, puisi ini disebut sebut adalah puisi dari bapak BJ HABIBIE untuk istrinya, Almh. Ibu AINUN HABIBIE, yah meskipun belum ada kejelasan pastinya, mungkin dari pembaca semua ada yang pernah membaca puisi ini sebelumnya, tapi saya share lagi untuk yang belum pernah membaca.

hmm, daripada saya kelamaan ngoceh (akibat lama nggak posting), langsuung aja dilihat puisinya yang so romantic ini😀

“Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi
tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat
tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti
kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam
perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu
sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu
sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan
aku kekasih yang baik.
mana mungkin aku setia padahal memang
kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu
mencintaimu seperti ini. Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan, calon bidadari surgaku …. “

-BJ.HABIBIE-

setiap wanita pasti ingin sekali dicintai seperti itu, tapi yang terpenting, dari puisi tersebut, kita dapat lebih memaknai arti dari keberadaan seseorang, saat ia masih bersama kita, toh umur siapa yang tauu, soalnya itu adalah hak mutlak Tuhan, kita sebagai makhluk hanya bisa menjalani hidup dengan sebaik baiknya kannn?? Setia dengan tulus ikhlas menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.,🙂

Salam,
Andluna🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: