Topeng dalam cerita

Baru saja saya melangkahkan kaki ke dalam angkutan kota berwarna putih itu, sayup-sayup terdengar alunan lagu milik band top nusantara “perlahan hati ku terbelenggu, ku coba untuk lanjutkan hidup”. Itu lagu yang sarat terdengar pada masa rilisnya, terutama remaja, saya salah satunya. Saya ingat betul kala itu masih berseragam putih abu-abu.

“Terus melangkah melupakanmu, lelah hati perhatikan sikapmu. Jalan pikiranmu buatku ragu, tak mungkin ini terus bertahan”

Entah apa yang dipikirkan oleh pembuat lirik ini, yang jelas lagu ini pernah menemani saya ketika sedang berusaha mempertahankan seseorang dan betapa harus melepas semua yang sudah diperjuangkan. Terdengar begitu random? Yah, begitulah. “Apa yang tidak mungkin di dunia ini”. Begitu kata ibunda ketika saya berkeluh kesah tentang kisah cinta anak remaja, cerita milik saya tepatnya.

Jumat ini hujan, tanpa sengaja saya terseret dalam lorong kenangan, terpelanting bertubi-tubi. Hujan sangat sukses mendramatisir semuanya. Seakan cerita lama sedang bebas berkoar-koar dalam benak saya, menyemai benih-benih inspirasi. Inspirasi? Yah, tentu. Inspirasi patah hati.

Saya membuang pandangan ke arah jendela yang sudah berlumur buih-buih rerintik, mereka seperti sedang menertawai perempuan berkacamata yang pernah jatuh di tiap titik jenuh cerita masa lalu, dan ikhlas begitu saja.

“Ah, bagian favoritku sedikit lagi”, gumamku. Lagu lama itu terus berayun di gendang telingaku, “Usai sudah semua berlalu..”

“Biar hujan menghapus jejakmu” saya bersenandung lirih, melanjutkan liriknya, terhanyut irama cerita lama.

“Lepaskan segalanya.. Lepaskan segalanya..”

 

#CerpenPeterpan

Jayapura, 29 juli 2012

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: