Aku dan rindu yang kian raksasa.

image

Selamat siang, selasa.

Matahari sedang bersinar terik-teriknya. Seperti rutinitas yang mulai dibiasakan. Selayaknya merindui tarian jemari milikmu, ah seyogyanya kau tahu.

Mungkin, tak ada yang lebih kau ketahui dariku selain hujan, petrichor, dan rindu. Terlalu lekat, sudah seperti identitasku. Atau jangan-jangan memang terpampang jelas di dahi berukuran lebih dari 4 centimeter ini?

Bagaimana dengan kerinduanmu? Masihkah ia menggebu? Ceritakan, ya ceritakan padaku tentang semua gulana yang menghadangmu. Kisahkan larik demi larik. Alunkan semua buncahan yang menggumpal dalam ruang bawah sadarmu.

Suatu ketika takdir menggariskan temu padamu, padaku. Aku bersedia melebarkan pori-pori di mataku untuk menyerap semua aksaramu.
Siang ini mungkin langit sedang sengit, sepertipun aku yang sedang berusaha memposisikan kalimat-kalimat yang saling berkelit.

“Laksana malam dan siang yang tak pernah berebut menggilas waktu, seperti itulah aku selalu berusaha meredam takut untuk tidak menunggumu.
Ya, terdengar terlalu naif perihal menyurgakan rindu, setidaknya itu membahagiakanku.
Kau tahu, aku terlalu cemburu dengan semesta milikmu. Yang tentu dapat merengkuhmu lebih dekat dari gerimis yang mimis dari langit nomor tujuh.
Dan aku? Hanya mampu menghitung hitung rindu dari jarak sekian ribu kecepatan cahaya dalam ritme tertentu.
Sudah lama aku sadar akan Bumi kita yang sedikit semu, tapi aku selalu ingin mendengar lincahnya jemari milikmu bertutur satu persatu. Aku selalu ingin menumpahkan banyak cerita padamu. Tentang Rabu yang lupa memendungkan Bumi, Kamis yang menangis deras, dan matahari Jumat yang masih malu-malu.
Kau percaya masih hidup rindu milikku? Ah, semoga.
Ketika tatapan langit Selasa terasa sangat nanar, rinduku masih saja berpijak dengan benar. Ia tak lagi berbaju ungu berkemejakan ragu, ia lantas mengkeju berfermentasi menjadi sesuatu yang baru. Rinduku tak pernah habis batas waktu, ia tak pernah semu. Rindu milikku kian raksasa lebih dari yang sekedar aku tuturkan padamu”.

Timur Indonesia, masih dengan rindu yang sama membaranya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: