Yang tak pernah sampai

image

Saya masih melihatmu terduduk di bangku taman berwarna biru kala itu.
“Sudah lama? maaf membuatmu menunggu.”
Tak ada kata, hanya senyum meronamu yang bicara. Seperti biasa.
“Lihat jingga itu, cantik yah. Sepertimu.”
Lidahku kelu, area Broca milikku seakan lumpuh dan layu. Mungkin hanya ruam merah yang merekah rata di wajahku.
“Diana, ada yang harus kau tahu selain indahnya tampilan semesta kala senja”
Saya melihat ia menerawang, seakan pupil-pupilnya hendak terbang.
“Semesta kita akan tetap indah seperti biasa, meski telapak tangan tak lagi menggenggam, persis seperti langit yang tak pernah salah menempatkan siang dan malam.” Ujarnya sembari mengukir simpul keindahan di sudut bibirnya.
“Seperti senja yang tak pernah absen menyapa dunia?”
“Ya, seperti itulah kira-kira.” Ia menimpali dengan sigap.
“Aku harus pergi, Diana. Semesta kita tak lagi sama. Hiduplah dengan tegas dan ceria. Oranye langit masih akan tetap sama, seperti cerita cinta Cinderella.”
Air mata mengalir terbata-bata. Mata saya menyembulkan bulir-bulir kesedihan. Betapapun itu, saya tak cukup berani kehilanganmu.
“Kelak, akan ada pria yang tak pernah membuatmu takut untuk ditinggalkan. Dia akan mendengarkan omelanmu tiap pagi, dan merengkuhmu hangat saat lelah menyeruak. Dia selalu ada, hingga usia lelah menatap dunia. Jangan menangis, Diana.”
Tangan saya mengepal kuat, meremas sepenggal kertas. Tintanya mulai pudar, berbentuk bundar-bundar.
“Sudah waktunya, Diana. Maaf, aku pamit.”
Gerimis di pelupuk mata memecah, seperti sebuah amarah. Kaki saya semacam baal yang dipaksa berlari. Ini kali pertama senyummu layaknya bisa yang meracun seluruh rongga pembuluh biasa. Ini kali pertama saya menggilas kertas yang tak lagi getas dengan tatapan nanar ke atas.
Sudah terlalu banyak kebencian yang dikirimkan setan kala itu. Senyummu bukan lagi madu.
Sekian mil dari pelarianku. Kau membuka tulisan tangan yang bergerigi pudar dengan bentuk bundar-bundar.

“Hingga terasa sesak saat jarakmu meluas, mereka bilang itu cinta.
Ketika rindu menjauh atau tak saling bersahut, mereka bilang curiga segera tiba.
Saat Malam mengelopak, dan rautnya kelam. Mereka sebut itu amarah yang temaram.
Ah, bagiku semesta itu ya Kamu.
Padamu kutemukan lebih dari seribu satu emosi, memori, dan rindu.
I love you.
– Dari Diana, gravitasi semestamu.”

***
#sebulanmenulis
06/06/2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: