Semoga lebih bijaksana

image

Hai, entah bagaimana aku harus meninabobokan tawa-tawa yang pecah dengan sendirinya ketika membaca suratmu, tuan.
Baiklah aku akan sedikit mengatup bibir demi rampungnya surat ini.

Jadi perihal kata maafmu yang kesekian, haruskah tetap aku jabarkan lagi kemudian?
Ya, ini kali kedua aku tidak menghadiri janjiku, anggaplah kita seri. Bagaimana jika aku dedikasikan menjadi maafku yang pertama?

Aksara darimu kulihat penuh dengan nama-nama yang tak lagi asing di telinga. Ah, kau begitu dekat dengan labelisasi sebuah negara. Percayakah kau mataku membulat takjub membaca cerita-cerita yang kau tulis dengan perasaan tak keruan itu? Baiklah aku tidak akan lagi tertawa.

Di teritorialku sudah minggu pagi, bagaimana denganmu?
Kau pasti masih larut dalam malam yang kau tuduhkan belum usang, identik dengan minggu kepunyaanmu bukan?

Mungkin ini akan jadi yang kesekian kau mendewakan pak sibuk dan keluarganya untuk menunda tibanya balasan ke rumah mayaku. Aku tak akan lagi memaksa, semoga tukang pos kali ini tak lagi lelah menunggu surat yang belum jadi.

– Luna dan matahari minggu yang bersinar suam-suam kuku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: