Karma

image

Di semesta lain dari ini ada kita; aku dan wanita yang hatinya patah.
Ia diselubungi tremor dan memberiku jatah resah.

*

Dalam sebuah beliung yang hebat aku hilang dari tanah tempatku berdiri, terserap waktu, dan terdampar di semesta sebelah.
Diantara sadar yang masih separuh seperti bulan yang belum penuh aku ada di cerita-cerita masa muda para tetua atau balian atau apalah itu.
Aku terseret takdir untuk menatapnya. Persis seperti kisah yang sering diperdebatkan di kampungku. Desir yang bergejolak dalam riak darah dari jantung hingga ujung pembuluh terkecil, tersempit, ter… Waktu terasa berhenti, aku semacam berputar lebih cepat dari tarian para sufi. Ah indahnya..

**

Dahulu, para tetua sering berkata tentang hikayat pemuda yang mencari hakiki dunia, dia berhasil mendapatkan semua kecuali kisah cinta. Ya, terlalu pandir hingga cinta riuh menabuh genderang luka.

Pemuda yang kerap dipanggil Baba adalah pria nyaris sempurna; dengan rahang lancip, hidung bangir dan tulang pipi kanan yang tiap semburat senyum memancar memunculkan sepasang lesung sedikit panjang. Dahinya cukup lebar, (perkiraanku lebih dari empat ruas jari tangan milikku) dan ditutup dengan rambut sewarna kuah rawon setan. Matanya! Aku paling suka matanya. Mata berkelopak tunggal dengan bentuk sedikit lebar lengkap dengan bulu mata selentik ekor kasuari serta alis yang seperti pedang raja-raja Narnia. Oh bibirnya! Bagian tepi bawah sedikit penuh berwarna seperti gincu merah bata. Dia bahkan terlalu gagah untuk menjadi seorang penggembala kuda. Betapa tidak, bisep dan trisep menggulung lemak di lengan-lengannya yang tampak berkeringat sebening kulit yang bahkan terlalu cantik untuk seorang pria.
Kegemarannya bertelanjang dada, memperlihatkan keahliannya menumpah sanjung dari bidari yang kebetulan sedang numpang mandi di Bumi.
Sayang seribu sayang, tak ada wanita yang tersihir oleh semua kenyaris—sempurnaan yang dimilikinya. Baba mungkin salah satu ciptaan yang indah, namun dia berselimut karma; pada seorang wanita di semesta lainnya. Betapa di dalam hatinya belum ada sesal yang sukarela. Hatinya terlalu beku untuk menyadari ada harga yang harus dibayar. Ada cerita yang harus diselesaikan, dan ada aku yang diam-diam menyambung harap.
Kudengar dari ucapan semrawut memedi di pohon jati, Baba semacam terkena kutukan semesta. Ya, semurka itu semesta padanya hingga menghardik semua kagum dari wanita yang melihatnya. Tunggu! “zwustwuzstghwuzst” Aku menempelkan telingaku di kulit akar jati, namun tak begitu jelas percakapan makhluk-makhluk itu. “Penghilang kutukan atau apa ya?” tanyaku dalam hati, aha! Penghilang kutukan..
Kubenamkan lebih dalam telingaku pada lingkar tahun pohon jati itu. “kazlowzt adzwat wazniszqta zsyazwng mzenstwenzhinsztaichnya skzutzhukzsan itzhu hazkan hzilawngs”. Ujar memedi yang lebih tua.
Itu dia! Itu dia! “Aku yang akan menghapus kutukannya. Aku yang akan…”
Tangan kananku meraba dadaku. Rata. Tak ada payudara. Hanya gundukan otot dan bulu yang tumbuh berebutan di kedua sisinya.

Aku pria yang mencintai Baba.

**

“Aku adalah kata-kata yang belum bisa berdiri dengan dewasa. Belum punya mata penuh bahagia, tersandung karma.” Sayup-sayup terdengar suara merdu Baba.
Aku terlena, berharap maut mendatangiku dengan semua cinta yang sia-sia.

***

2013,
Hujan dan semua keabsurdan dalam kepala.

2 Komentar (+add yours?)

  1. Arman
    Okt 31, 2013 @ 22:00:43

    endingnya gua gak ngerti nih. apa maksudnya sih mbak?
    tapi keren kok ceritanya.

    kunjung balik ya mbak

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: