Dua pasang mata yang tak pernah bertemu

image

Aku tak pernah lupa rupamu, belahan rambut klimis yang menolak berkawan dengan gravitasi, bahkan letak ransel yang tersandat di bahu kirimu.

Kala itu,

Hari-hari sedang hujan. Seakan membiarkan anak awan berpelukan dengan bebatuan.
Udara terlalu segan, memeluk embun dengan setengah bekuan.
Dan sialnya Kau masih terlalu tampan.

Masa itu,

Aku masih belum menyadari kehadiranmu.
Hingga sweater itu serupa milikku.
“Marun ya?” tanyamu sembari menebar senyum bak selebriti.
“iya, kenapa?”

Tanpa sepatah kata Kaupun berlalu.
Dan sialnya hatiku tersangkut, di senyumanmu.

Hari-hari setelah itu masih saja menumpah hujan.
Membiarkannya merogoh kering para bebatuan, mengalirkan basah.

Dan aku masih saja mencarimu di seberang peraduanmu, meski susah.

Sebenarnya Kau tak pernah berpindah. Aku beku dalam kecewa yang kadung singgah.

Setelah itu,
Aku terus mencarimu, dan Kau belum pernah sekalipun menemukanku.

***

30 Lovember 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: