Cerita dalam pintu

image

ADA yang mengherankan saat kita bertemu lagi. Dalam tatapan yang berbeda. Dalam cerita yang tak lagi sama. Ketika kita berpura lupa kapan terakhir menyapa, kapan terakhir kita menitip luka.
Kukerat senyum darimu yang kupetik diam-diam waktu itu; belasan tahun lalu. Lantas ku bandingkan dengan lanskap cengkok bibirmu, dalam diorama itu—yang terletak di atas meja bambu segi empat hijau pupus berukiran “Aku cinta padamu” dalam duabelas bahasa, sayangnya aku hanya bisa membaca beberapa. Kau tampak berbeda. Walau masih dengan seringai yang sama. Aku bisa apa selain harus jatuh cinta? Menertawaimu karena tak ada yang berubah? Aku yang akan tertawa untuk diriku, puluhan tahun bukankah terasa percuma? Ya, usaha-usaha itu. Bukankah sia-sia?
Sudah tersia-sia dirayapi waktu, digerayangi kekasih-kekasih baru. Dan senyummu tetap sama. “Ah, sial!” umpatku dalam hati. Ya, dalam hati. Kau tahu kan, aku tak pandai mengatur ritme berbicara, denganmu; ya tentu. Kau adalah pengecualian yang terus menerus aku pertahankan. Menerima lupa adalah bukan ajian pamungkas untuk lelaki dengan senyum sepertimu. Bukan. Sama sekali bukan.

(bersambung)

***

6 Januari 2014

4 Komentar (+add yours?)

  1. Senja
    Jan 06, 2014 @ 21:59:10

    Yang paling menohok adalah kata bersambungnya. Nanggung. Padahal bagus loh.

    Balas

  2. Alexander Gb
    Mei 11, 2014 @ 01:26:52

    asyiiikk…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: