[Cerpen] Seminggu sekali

image

Ursula punya alasan untuk duduk di pantai itu. Matanya yang bundar dengan iris berwarna cokelat lengkap dengan sepasang kelopak tunggal yang ditumbuhi rajutan rambut selentik ekor kasuari —menatap kilau air asin yang tersorot matahari, memantulkan biru toska langit—ataukah langit yang memantulkan biru toska itu dari lautan.

Setiap Rabu ia selalu datang ke sini, ke pantai ini. Duduk di tempat yang sama, dengan kaos oblong berwarna putih dan celana jeans yang sama pula. Memandang ke arah barat yang sama, dan menunggu senja yang mungkin sudah tak lagi sama.
Konon ia sedang menunggu kepulangan seseorang, kekasihnya.

Padahal ia cantik. Ya, Ursula memanglah cantik. Dengan bentuk wajah sedikit bundar dan dagu meruncing ke bagian bawah membuat suatu daya tarik tersendiri yang tak didapati pada perempuan pada umumnya. Hidungnya pun biasa saja, tidak terlalu bangir, mungkin saat tersenyum yang
paling jelas terlihat adalah lesung di pipi sebelah kiri Ursula serta bibir yang membentuk huruf M sempurna saat wajahnya datar-datar saja.Sehingga harusnya tidaklah sulit untuknya jika harus mencari kekasih baru.

Terik makin menjadi dan Ursula masih tetap tak bergeming untuk bergeser atau sekedar merubah posisi kedua lututnya yang ditekuk sebatas bahu. Telunjuk sebelah kanannya pun
belum juga berhenti menulis dua buah kata di atas pasir berwarna aprikot muda di samping tempat ia duduk. Ursula
menuliskan nama kekasihnya yang menjanjikan kepulangan saat Rabu tiba, dua puluh delapan bulan silam.

***
Tantangan menulis, Februari 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: