[Cerpen] Anirudha

image

Suamiku mendapat gundik baru. Dia adalah wanita yang mampu membuat mata lelaki terus lekat menatapnya. Anirudha. Ah, yang benar saja. Anirudha untuk seorang wanita? Dalam bahasa sansekerta Anirudha artinya tak ada yang menghalangi atau tak ada batasannya dan seharusnya itu disematkan pada bayi laki-laki, bukannya untuk seorang wanita yang kerap berpakaian mini dan kadang menerawang membius birahi lelaki yang memandang.
Sejak ia pindah di rumah minimalis di dekat pertigaan, aku mulai cemas ketika suamiku pulang malam.
Ada rasa takut. Hatiku sering kali beringsut mirip halaman yang berebut ditumbuhi rumput, lalu terbakar sundut. Karenanya mulai jam tujuh malam dua hari silam, aku selalu menggosok penggorengan dengan sabut kelapa dan sabun colek agar semua pekerjaan rumah selesai sebelum suamiku datang; Lengkap dengan atribut daster-rol serta bau kecut keringat yang mampu kuhidu sendiri. Kondisiku jelas berbeda dengan wanita itu, Anirudha. Si janda beranak satu itu—yang bangir hidungnya mirip artis ibukota dan iris mata berwarna cokelat muda, dengan kelopak ganda dan alis mata yang sedikit tebal dan menukik ke atas hampir di sepertiga ujungnya. Dia masih terlihat sangat muda.
Rasanya sudah cukup untuk menceritakan kemolekan tubuhnya. Aku paling tak tahan melihatnya saat sedang menjemur pakaian di pagi hari. Juga rambutnya yang panjang dan legam selalu saja dibiarkan tergerai setengah basah, menambah sisi eksotis kulitnya yang sengaja diberi krim agar berubah warna menjadi kecoklatan itu. Lengannya yang kencang begitu memikat saat mengibas-ibas pakaian dan menjembrengnya di tali jemuran. Belum lagi ketika tubuhnya sedikit terguncang.
Suamiku pernah hampir tak pulang karena mengintip Anirudha di pagar perdu pertigaan jalan.
Malam itu, aku merol rambutku hingga tengkuk—dan terlihat seperti memakai
mahkota bundar berwarna merah kuning biru, hampir nyaris sama bundar dengan
kedua pipi, perut serta motif terusan tanpa lengan yang
ku kenakan. Entah darimana mulainya, hingga suamiku merajuk meminta izinku menikahi wanita itu. Anirudha, yang rahimnya telah ditanami benih dari suamiku tercinta.

***
2014

Ps: Ditulis sebagai latihan mengurai paragraf.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: