[Cerpen] Jatuh diam-diam

image

Aku mengenang saat pertama
memandang matamu. Tiga tahun lalu di tempat ini, saat aku sedang memandangi punggung telepon selular yang hitamnya tak kalah dengan bulan saat sedang gerhana.

“Hey, kau tahu siapa dia?” Tanyaku sambil membuka bungkus permen yang aroma mentolnya menusuk hidung.

“Dia siapa yang kau maksudkan?”

“Dia, yang di sana. Di bawah Linden tua itu” tanyaku lagi sambil memonyongkan bibir.

“Yang mana sih?”

“Si kemeja kotak-kotak lengan pendek berheadphone besar” ujarku lagi.

“Oh, dia. Anak baru. Mau kukenalkan?”

“Gila ya, anak kampus mana sih yang tak kau kenal di dunia ini, hah?” Aku tertawa kecil.

“Kau bisa tanyakan informasi apapun tentang dia”

” Ah, sesumbar kau!” aku beranjak dari tempatku mencuri pandang sedari tadi. Entah kenapa dari enam meter jarak ini dadaku seperti sedang tersengat sesuatu.

“Namanya Nina” tiba-tiba saja Joni membuyarkan lamunanku.

“Nina?” tanyaku lagi.

“Kenapa, indah ya?”

“Nina, artinya cantik, murni, baik hati” Kataku lagi sambil setengah bergumam.

“Kau puitis sekali kawan” Joni terbahak-bahak.

“Jon, kau tahu aku sejak lama. Tapi kau sedang tak memujiku kan?” aku melayangkan kepalan tinju ke bahu kirinya.

“Apa apaan sih kau ini” ujarnya menggerutu.

“Kalau saja rambutnya sebahu, aku pasti menyukainya. Tapi matanya teduh Jon, seperti rindang yang menaunginya”

“Mimpi ya kau? Rambut setengkuk begitu saja sudah seperti bidadari. Kalau kau tak mau, biarlah buatku”

“Hentikan Jon.” pungkasku lagi.

“Baiklah lae, baiklah. Sekarang temani aku ke warteg Bu Modjo. Perutku sudah rindu hangatnya sentuhan nasi uduk hangat.” Kata Joni sambil merangkul pundakku, memaksaku beranjak.
Percakapan tiga tahun lalu itu selalu terngiang tiap harus melepas lelah di bawah rindang Linden yang menghampar atau sedang mencari kenyang di warteg Bu Modjo.
Sejujurnya aku tak pernah tahu ada tatapan seindah itu di dunia. Atau jatuh cinta memang mampu membuatmu kehilangan kata-kata? Bahkan ketika kau tak bisa memulai semuanya. Entahlah.

***
Djj, Maret 2014

2 Komentar (+add yours?)

  1. Agfian Muntaha | @Ianfalezt
    Mei 05, 2014 @ 12:45:52

    Jadi ini ceritanya tentang penyesalan seorang cowok yang tak pernah menyapa si cewek ya? Hihi, sendu dan sedih,😦

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: