Kepada Andluna.

Kepada Andluna.
Hai, lama rasanya aku tak menyapa.
Kau sehat?
Maksudku semoga bahagia selalu menyarungimu.
Aku sungguh tak berniat menanyakan perihal kesehatanmu. Maaf jika menurutmu itu sedikit terdengar kurang sopan.
Baiklah. Jangan menghindariku. Ya, jangan menghindariku. Seperti kau memperlakukan pria-pria yang meninggalkanmu tanpa alasan itu. Aku bukan mereka. Dan percayalah aku sedikit lebih baik.
Menurutku, tak ada hujan yang lebih deras selain kuyup berupa rindu yang membasahi hatiku. Sudah lebih duabelas liter aku menampung perasannya dengan kertas-kertas bekas coretan yang kau kepalkan dan kau lempar ke penjuru arah.
Pasti kau sedang berpikir, tentang aku. Ya tentangku setelah kau membaca ini. Seputus asa itukah aku. Hah! Memang seperti itu adanya aku saat ini—sebenarnya sejak kau menjauhiku. Entah sejak kapan. Terus terang aku bukan jenius yang mampu mengingat detil suatu hal dengan baik. Tapi kupastikan aku sanggup menyimpan apapun yang kau ceritakan dalam memori jangka sangat panjang milikku. Tentu kau tahu maksudku. Dan yang terpenting aku sedang tidak membual atau menebar-nebar rayuan gombal ala cassanova.
Luna, berhentilah sejenak; dari kegiatan yang kau sebut itu pengabdian ketulusan atau hibernasi setelah depresi. Berceritalah kepadaku. Tentang apa saja. Akan kusediakan pundak super panjang dan rak alur super nyaman agar kau tak repot mengatur latar waktu yang tepat.
Aku merindukan kuncir kuda yang menghampiriku setiap ia kembali dari tidurnya. Aku merindukan aroma white musk yang bercampur dengan keringatmu yang terserap dalam setelan piyama lengan pendek dan celana panjang yang selalu kau kenakan tiap malamnya. Aku merindukan tahi lalat di sepertiga tulang selangka sebelah kiri yang sering kali mencuri pandang kepadaku.
Sepertinya aku merindu lebih banyak dari yang sudah kuhitung-hitung jumlahnya.
Tapi tak apa. Aku akan menunggumu kembali. Semangat, senyuman, dan kegalauan yang sengaja kau ciptakan agar dapat bercerita suatu hal padaku.
Luna, ringankan hatimu dalam pelukanku. Pelukan yang bahkan tak sanggup melingkari tubuhku sendiri. Datanglah padaku, datanglah.

***
Sebelum kuakhiri ini; Terima kasih Luna, sudah bercerita tentang semua nyata dan tidak nyata dalam pikiranmu, padaku. Saranghae.

Dari: catatan yang kau penuhi derasnya arus pikiranmu.

image

****
27/06/14

4 Komentar (+add yours?)

  1. Agfian Muntaha | @Ianfalezt
    Jun 27, 2014 @ 10:42:23

    Suratnya manis sekali. Meskipun aku sebal, karena tidak tahu siapa pengirimnya. hehe😀

    Balas

    • andluna
      Jun 28, 2014 @ 01:10:25

      Sedikit absurd memang. Tapi memang topiknya adalah kerinduanku untuk menulis yg dibalik sudut pandangnya. Terima kasih sudah mampir kak.🙂

      Balas

  2. Tabik!
    Jun 30, 2014 @ 09:53:13

    Śemoga mbaknya diberi kesehatan dan kebahagiaan senantiasa agar selalu bisa memposting karya yang bagus setiap harinya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: